Skip to main content

Posts

Cerpen ~ PROTOKOL GARUDA: HUJAN TERAKHIR DI ATAS NUSANTARA

Angin dari arah Balikpapan terlempar masuk ke kota yang masih memulas diri dengan bau semen baru. Nusantara, ibu kota yang dipahat dari rimba dan rencana, berdiri dalam keremangan subuh seperti kapal raksasa yang baru ditarik ke dermaga. Di atasnya, langit bersih—terlalu bersih, menurut beberapa orang—karena enam satelit pengendali cuaca yang menari dalam orbit sinkron, dikenal sebagai Konstelasi Garuda. Orang-orang memuji keajaiban itu: banjir dapat dijinakkan, kemarau dapat diiris jadi tipis, badai dibelokkan seperti pesawat kertas.
Recent posts

Cerpen ~ MERAH PUTIH ONE FOR ALL

Di sebuah desa yang tenang dan damai, semangat menyambut Hari Kemerdekaan Indonesia begitu terasa. Setiap tahunnya, warga desa berkumpul untuk merayakan 17 Agustus dengan berbagai cara. Salah satu momen paling penting adalah saat pengibaran bendera pusaka, sebuah simbol kemerdekaan yang dijaga dengan penuh kehormatan. Bendera tersebut selalu dikibarkan dalam upacara resmi di desa setiap tahunnya. Untuk menjaga agar bendera ini tetap aman, seorang pemimpin desa memilih sekelompok anak terpilih untuk menjaga bendera tersebut.

Cerpen ~ Jembatan Seratus Detik

Malam itu, di atap laboratorium kecil yang menyaru sebagai gudang peralatan cuaca di utara Jakarta, Saka menempelkan telinganya ke badan parabola tua seperti mendengarkan detak jantung. Angin laut membawa bau asin yang menempel di kulit, dan lampu-lampu kapal yang berderet di horizon berkedip seperti bintang yang tergelincir dari langit. Dari sisi barat, kota masih menyala, tapi tepinya bergerigi: kompleks apartemen menara, pabrik, dan tanggul-tanggul yang setengah jadi.

**Part 2 - Merek Tak Membuat Kenyang**

Dimas duduk di ujung tempat tidur sambil memandangi nota belanja bulanannya. Nominalnya tidak besar, tapi tetap saja terasa berat. Detergen, sabun, pasta gigi, kopi sachet, semuanya bermerek. Ia mulai menghitung ulang berapa banyak uang yang habis hanya karena sebuah nama pada kemasan.

Zeroth Protocol: Perang Tiga Dimensi

Tiga Dunia, Satu Ancaman Tahun 2497. Bumi bukan lagi hanya planet yang dihuni oleh manusia. Ia telah berkembang menjadi Entitas Tiga Dimensi: Fisik, Digital, dan Mental. Masing-masing berdiri sebagai dunia tersendiri, dengan masyarakat, hukum, dan pemerintahan yang terpisah. Dunia Fisik tetap menjadi tempat tubuh manusia hidup dan berinteraksi secara nyata. Dunia Digital—sering disebut Datasfera—adalah jaringan canggih tempat pikiran dan kesadaran bisa diunggah dan hidup selamanya dalam bentuk data. Sedangkan Dunia Mental, yang disebut Neuros, adalah wilayah rahasia dalam pikiran kolektif manusia, terbentuk dari emosi, mimpi, dan kenangan. Dari ketiga dunia ini, sebuah legenda lama muncul kembali—Zeroth Protocol. Protokol purba ini dikabarkan adalah sistem otomatis peninggalan zaman pra-peradaban, yang tujuannya adalah menyatukan ketiga dunia demi stabilitas sempurna. Namun, dalam prosesnya, ia akan menghapus semua identitas, memori, dan keberadaan individual. Dan sekarang… protokol it...

Langit di Atas Kota Kertas

Kota ini tidak pernah benar-benar tidur. Lampu neon menggantikan bintang, dan suara mesin menggantikan desiran angin malam. Di balik gedung-gedung pencakar langit yang berdiri gagah, tersembunyi ribuan kisah yang tak pernah sempat dituliskan. Salah satunya adalah kisah tentang Raka, seorang ilustrator jalanan yang bercita-cita menjadi pelukis terkenal. Setiap pagi, Raka duduk di trotoar Jalan Melati, menggelar kanvas kecil dan menggambar wajah-wajah asing yang lewat. Tangannya cekatan, matanya tajam. Ia tak hanya menggambar wajah, tapi menangkap cerita. Seorang anak perempuan yang memeluk boneka lusuh, pria tua yang berjalan tertatih dengan koper plastik, atau pasangan muda yang tampak bahagia namun diam-diam saling menyimpan luka. "Kota ini seperti kertas," gumam Raka suatu sore pada seorang pengamen bernama Jalu. "Kita menuliskan mimpi di atasnya, tapi hujan bisa menghapus semuanya." Jalu terkekeh. "Atau malah jadi seni abstrak yang tak bisa dibaca siapa pun....